Pendakian Gunung Sumbing 2009

22 September s.d. 27 September

Meninjau Lokasi

Gunung Sumbing dengan ketinggian mencapai 3.371 mdpl, adalah gunung yang menempati ranking ke dua dalam hal ketinggiannya di Jawa Tengah. Gunung ini berhadapan dengan Gn.Sundoro. Posisi yang begitu itu membuat dua gunung tersebut juga dikenal sebagai gunung kembar.

Seperti halnya beberapa gunung lainnya di Jawa, setiap tanggal 1 Suro (tahun baru Jawa) dan tanggal 21 Poso (bulan Jawa), sudah menjadi tradisi masyarakat setempat untuk melakukan perjalanan ziarah ke puncak Gn. Sumbing, di mana konon terdapat makamsesepuh yang dikeramatkan, makam Ki Ageng Makukuh. Menurut kepercayaan penduduk setempat agar selamat dan terhindar dari mara bahaya, anak-anak dibiarkan berambut Gimbal. Masyarakat lereng Gn.Sumbing sangat mengenal dan menyukai kesenian tradisional seperti Kethoprak dan Kuda Lumping atau Jathilan. Saat waktu-waktu tertentu masyarakat sering mementaskan kesenian tersebut.

Jalur pendakian yang biasa dipilih ada dua rute: (1) Base Camp Garung yang berada di Desa Garung, Kecamatan Kalikajar,Kabupaten Wonosobo dan (2) Base Camp Cepit, yang berada diDesa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.

Merencanakan Pendakian

Semula kami ingin ke Gn. Slamet. Namun kemudian banyak usul lainnya dan akhirnya kami ke Gn. Sumbing. Ada Bang Guntur yang ikut ngasih masukan. Ada juga info-info lainnya yang kami dengar, termasuk juga dari internet.

Perjalanan memakan waktu enam hari. Itu kalau dilihat secara total. Dihitung mulai keluar dari rumah sampai dengan kembali masuk ke pintu rumah. Kami berkumpul di Bonlap.

Kami berangkat bersembilan. Rencananya sih pendakian ini diikuti oleh dua angkatan: LS dan CB, yang kalau ditotal lebih banyak lagi jumlahnya. 11+8=29 Anggota. Tapi sangat disayangkan, akhirnya cuma sembilanan. Biarlah, semoga pendakian selanjutnya lebih banyak lagi yang bisa ikutan.

Jam tujuh pagi kita ngumpul di Bonlap. Seharusnya kita nggak terlalu lama dan bisa langsung ke stasiun Bekasi lalu nyambung KRL ke Jatinegara dan di Jatinegara itulah kereta yang akan membawa kami ke Semarang akan datang dari stasiun Tenabang. Kereta kami Matarnaja (Rp.26 ribu). Seharusnya Matarmaja berangkat ke Jawa jam 14.15 wib dan 22.30 Wib kereta seharusnya sudah tiba di Semarang Poncol. Seandainya setepat jadwal mungkin perjalanan menjadi lebih menyenangkan. Kereta kita selalu terlambat. Sudah tengah malam akhirnya waktu kami menunggu bus jurusan Wonosobo (Rp.25 ribu). Bukan dari terminal, kami menunggu di pinggir jalan tidak terlalu jauh dari stasiun.

Garung

Garung adalah desa tempat pendakian dimulai. Basecamp pendakian tidak jauh dari jalan raya. Kami bayar 39.000 untuk biaya retribusi dan denah perjalanan. Banyak pendaki yang sudah lebih dahulu tiba di basecamp Gn. Sumbing. Alamat lengkap Base Camp Garung:

STICK PALA (Satuan Induk Bocah Bocah Karang Taruna Pecinta Alam). Desa Butuh, Dusun Garung, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Beberapa dari pendaki yang ada di basecamp berasal dari Jakarta, Bandung, juga Bekasi. Kita juga menyempatkan untuk mengisi berbagai jerigen untuk air minum di sana. Rumah yang merangkap kantor pembayaran retribusi, warung, dan penginapan gratis bagi pendaki yang baru datang atau pun mau pulang adalah rumah kepala desa setempat.

Tepat di depan gapura Garung kami diturunkan. Belum ketinggalan waktu subuh. Kami berjalan sekitar 500 meter, selama tidak lebih dari setengah jam. Tidak terlalu jauh dari jalan aspal.

Awal Pendakian

Setelah sarapan, mandi, dan sedikit beristirahat dari kepenatan perjalanan, akhirnya pendakian kami mulai; pendakian menuju puncak.

Track curam berdebu. Mulanya perkebunan bawang, sawi, kol, dan beberapa bunga-bungaan yang tertata rapi. Naik-naik ke puncak gunung. Anak-anak CB merasa ngedrop dan sempat juga salah terka. Kita pikir, mulanya, sudah sampai daerah Genus, ternyata belum….pos setelah Genus bernama Engkol-engkolan. Perjalanan sangat melelahkan. Pos setelah Engkol-engkolan bernama Pestan. Pas di Pestan sore sekitar 15.30 wib.

Bermalam di Pestan (Peken Setan/Pasar Setan, pada ketinggian 2.437 mdpl)

Akhirnya kita memutuskan bermalam di Pestan (sebelum Pasar Watu). Dua buah tenda didirikan. Di sini diluangkan waktu untuk ngobrol soal Red Ant mengenai kepengurusan ke depan. Anak-anak Cacing Batu harus siap dan menyiapkan diri untuk menjadi pengurus. Kue lebaran banjir dalam pendakian, bahkan ada juga kenang-kenangan dari kelompok pendaki lain berupa dua buah stoples full kue lebaran.

Malam itu lima buah tenda berdiri di Pestan, melindungi para pendaki dari cuaca yang menggigil, angin terasa kencang.

Hari Baru (Pendakian dilanjutkan).

Jam 10.30 wib. bongkar tenda. Sepuluh menit kemudian semua sudah siap. Kita siap berangkat. Jalan kembali dilanjutkan s.d. Pasar Watu (siang, sekitar 12.30 wib.) dan istirahat sebentar. Jalan lagi ke Watu Kotak, terus ke Tanah Putih. Di sepanjang jalur itu kondisi jalan berupa tanah merah berpasir.

Selanjutnya kami sampai di Pasar Watu. Keadaan banyak batu berserakan. Di depannya dinding batu berdiri. Jalur di sini kelihatannya rawan soalnya bener-bener terbuka: kanan dan kiri jurang. Pendaki harus mengambil jalan ke kiri sedikit menurun mengelilingi dinding batu terjal. Jangan mengambil jalan lurus dengan apa lagi memanjat dinding terjal karena jalur itu buntu.

Dengan cara menelusuri sisi-sisi bebatuan terjal, kemudian kamisampai di Watu Kotak (2.763mdpl). Sebuah batu yang besar seperti kotak. Jalur aman dalam cerukan yang dapat digunakan untuk berlindung dari tiupan angin dan hujan. Di tempat ini ada sedikittempat buat ngecamp dengan mendirikan tenda. Di sini pendaki dilarang buang air sembarangan, kami diberitahu oleh orang-orang. Peringatan itu juga ada di kertas denah jalur yang dibagikan. Katanya tempat ini salah satu tempat yang keramat.

Selanjutnyayang dilewati Tanah Putih, semuanya batu kapur. Jalur terasasangat berat, tanjakannya tegak. Jalur di batu-batu yang gampang longsor baru kemudian sampai di puncak. Menuju puncak lurus ke atas. Katanya banyak musang gunung yang hidup di lubang-lubang batu celah-celah kawah. Musang-musangnya berani-berani sama pendaki. Kami tidak melihatnya saat berada di sana.

Di Tanah Putih Gery mengaku taksanggup lagi melanjutkan perjalanan. Dia tinggal di simpang Tanah Putih. Dia sekalian menunggu barang-barang yang ditinggal.

Puncak

Akhirnya sampai di puncak. Sekitar jam limaan. Jelas terbayang perjalanan panjang melintasi jalur lama terus sampai ke puncak Gn. Sumbing ini. Mulai dari KM 1. Sejak gapura Desa Garung ke basecamp. KM 2 kebun penduduk, KM 3 juga kebun penduduk, di KM 4 pendakian kami melewati wilayah hutan pinus. KM 5 kami melewati Bukit Genus dan Bukit Sedelupak. Jalur sangat curam. Itu bagi kami terasa sangat berat. MenujuKM 6 jalur lama dan jalur baru akan bertemu di sebuah tempat yang dinamai Pestan (Peken Setan/Pasar Setan, pada ketinggian 2.437 mdpl), pendaki dapat beristirahat atau mendirikan tenda, seperti kami, kami beristirahat dan bermalam di sana. Berarti seharian sesudah Pestan kami sampai puncak. Itu tadi sekitar jam limaan.

Nama-nama Pos Pendakian Jalur Lama di Gn. Sumbing (3371 mdpl).

Garung - Genus - Engkolengkolan – Sedelupak Roto – Pestan – Pasar Watu – Watu Kotak – Tanah Putih – Puncak.

Adiministrasi

Kita nggak izin ke sekolah. Kita nggak izin ke Pembina. Tapi kita izin ke polisi. Itu bapaknya Mega.

Jalur Pulang

Saat pulang jalur yang kita pilih tidak menggunakan jalur kedatangan. Kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan bis dari terminal Wonosobo. Ongkos ke Bekasi (Rp.90ribu). Perjalanan pulang: 17.30 s.d 06.30.

Akhir

Pendaki harus benar-benar menghormati kebiasaan penduduk lereng gunung Sumbing, banyak pantangan yang harus diperhatikan diantaranya tidak merusak tanaman, tidak mengganggu kebun penduduk, tidak membuang sampah, berhati-hati jika menyalakan api karena rawan kebakaran, berlaku sopan, tidak sombong, ramah bila berjumpa penduduk, tidak mengeluh, dan tidak buang air di sembarang tempat. Sebaiknya pendaki tidak meletakkan barang-barang diluar tenda. Demi keamanan. Sikap ramah, sopan, dan penuh waspada para pendaki sangat diperlukan.