Camping Lembah Pangrango 2010




Kali ini, kami akan menceritakan pengetahuan kami tentang Lembah Pangrango yang kami peroleh setelah camping di daerah Lembah Pangrango. Bagi teman-teman yang tertarik dengan Lembah Pangrango, simaklah pengalaman kami ini.


KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan Letak

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) adalah salah satu dari lima Taman Nasional yang diumumkan oleh pemerintah pada tahun 1980. Taman Nasioanal Gunung Gede Pangrango (TNGP) mempunyai luas15.196 Ha, yang meliputi Cagar Alam Cibodas, Cagar Alam Cimungkat dan Taman Wisata Alam Situgunung.

Menurt adminitrasi pemerintahan termasuk kedalam tiga wilayah Kabupaten yaitu : Kabupaten Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Kantor pengelola Taman Nasional Gede Pangrango ( TNGP ) terletak disebelah kanan jalan , sebelum pintu masuk Kebun Raya Cibodas.

Topografi
Kwasan TN Gunung Gede terdiri dari beberapa gunung, yaitu Gunung Pangrango (3.019 m), Gede (2.958 m), Gumuruh (2.929 m), Masigit (2.500 m), Lingkung (2.100 m), Mandalawangi (2.044 m) dan beberapa gunung kecil lainnya.

Dibeberapa tempat bertopografi landai sampai datar, misalnya Alun-alun Surya kencana (50 Ha) yang terletak dikomplek Puncak Gede, Alun-alun Mandalawangi (5 Ha) di puncak Pangrango dan di komplek Danau situgunung(15 Ha). Ketinggian tempat berfariasi : mulai 800 meter sampai 3.019 meter di atas permukaan laut.

Iklim
TN Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan terbasah di pulau jawa dengan curah hujan rata-rata 3.000-4.200 mm per tahun. Bulan basah pada perode Oktober sampai Mei, pada saat musim barat laut dan rata-rata hujannya lebih dari 200 mm per bulan. Bulan Desemeber sampai Maret curah hujannya dapat mencapai lebih dari 400 mm per bulan. Pada periode ini biasanya puncak Gunung Gede dan Parangrango tertutup kabut dan pengunjung dilarang masuk.

Menurut klasifikasi iklim Scamidt dan Ferguson , tipe iklim dikawasan ini termasuk tipe iklim A. Rata-rata temperaturnya bervariasi antara 18°C di Cibodas dan kurang dari 10°C di puncak Pangrango.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora

Secara keseluruhan kawasan TN Gunung Gede Pangrango termasuk formasi hutan hujan tropis pegunungan dengan tiga asosiasi hutan yang utama yaitu asosiasi puspa, asosiasi puspa-jamuju serta sosiasi hutan cantigi. Namun demikian di samping tiga asosiasi hutan tersebut, terdapat beberapa asosiasi hutan lain yang sifatnya lokal.
Apabila dilihat dari jenis-jenis pohon yang mendominasi di setiap ketinggian tempat, maka dapat dikelompokkan menjadi zona-zona sebagai berikut:

ZONA SUB MONTANA (800-1.400 meter) ditandai dengan tiga lapisan tajuk yang didominasi oleh rasamala (altingia excelsa) yang tinggi pohonnya dapat mencapai 60 meter dan Castanopsis aegntea, Antidesma tetrandum dan litsea Sp. Dan semak-semak (Ardisia fulginosa dan Dichera febrifuga).

Selain itu banyak jenis tumbuhan bawah, epifit dan lumut, di antaranya dapat di jumpai begonia, paku-pakuan,anggrek dan lumut merah (Sphagnum gedeanum). Salah satu yang mudah dikenali adalah jenis dari paku-pakuan (Asplenium nidus) yang berdiameter dapat mencapai 2 meter

ZONA MONTANA (1.400-2.400 meter) : memiliki beberapa jenis yang mudah dikenali yaitu: puspa (scima wallichii), jamuju (podocarpus imbricatus), dan kijebung (polyosma illifocia).

ZONA SUB ALPIN (di atas 2.400 meter) : ditandai adanya dominasi jenis cantigi (Vaccinium varingiaefolium) dan bahkan merupakan vegetasi tunggal di daerah kawah. Tumbuhan lainnya yang terdapat di zona ini adalah bunga edelwis (anaphalis javanica) yang oleh para pencinta alam disebut bunga abadi karena bunganya separti tidak pernah layu.

Berdasarkan hasil surfey yang dilaksanakan pada tahun 199, dilaporkan bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan di kawasan Taman Nasional ini, jumlahnya makin menurun dengan semakin tingginya tempat dari permukaan laut. Pada zona Sub Montana terdapat 249 jenis flora, zona Montana terdapat 185 jenis dan di zona Sub Alpin hanya terdapat 36 jenis.

Fauna
Tingginya nilai keaneragaman jenis tumbuhan di TN ini disebabkan adanya curah hujan yang tinggi, sinar matahari yang cukup, keadaan topografi yang bergunung-gunung, keadaan tanahnya yang subur dan faktor lainnya yang mendukung, maka hidup dan berkembang biaklah berbagai jenis satwa. Satwa tersebut meliputi mamalia, burung (aves), serangga (insekta), binatang melata (reptilia), binatang yang hidup diair dan didarat (amphibia), dan beberapa jenis binatang air.
Burung yang hidup di TN Gede Pangrango ± 250 jenis atau lebih dari 50% jenis burung yang ada di pulau jawa . Beberapa jenis yang mudah dijumpai diantaranya adalah : elang jawa (Spizaetus bartelsi), tukung tumpuk (Megalaina corvina), burung kipas (Rhipidura phoenicura), burung kuda (Garulax rutriforn), berecet (Alcippe phychoptera), srigunting (Dicrurus remifer), sepah (Perirotus miniatus), cingcoang (Myomela diora), jarak hutan (Herpactes reinwardtii) dan cicakopi (Pomatorhinus montanus).
Beberapa jenis satwa liar tergolong langka yang ada di kawasan hutan gunung Gede Pangrango diantarany adalah : macan tutul ( Panthera pardus), anjing hutan (Ciuon palnus), trenggiling (Manis javanica), kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiakus muntjak).
Empat primata yang kadang terdengar suaranya adalah : owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypitechus auratus) dan kera abu-abu (Macaca fascicularis). Owa dan surili adalah satwa endemik dan dilindungi undang-undang.
Beberapa jenis kupu-kupu juga terdapat di TN Gede Pangrango. Cacing sonari, sejenis cacing besar yang panjangnya bisa mencapai 60 cm. Juga terdapat dan sering terdenger suaranya yang mendengung cukup keras.

POTENSI WISATA ALAM

Rekreasi alam yang dilakukan antaranya adalah untuk berolahraga jalan kaki, mendaki, berkemah, memotret, menyaksikan dan menikmati keindahan alam, mengagumi gejala-gejala alam yang ada, di antara lain yaitu :

  1. Telaga Biru: terletak 1,5 km. Dari pintu masuk cibodas. Disebut telaga biru kencana airnya dapat terlihat berwarna biru yang disebabkan oleh jenis ganggang biru yang hidup didalamnya. Warna biru akan lebih jelas terlihat apabila permukaan air telaga tersinar matahari.
  2. Rawa Gayonggong : terletak 1,8. Dari pintu masuk Cibodas. Rawa mengandung belerang dengan latar belakang hutan pegunungan yang terdapat pada ketinggian 1.400 meter itu, merupakan pemandangan unik yang langka.
  3. Air Terjun : air terjun Cibeureum terletak 2,5 Km dari pintu masuk Cibodas. Dilokasi air terjun ini terdapat dua buah air terjun lainnya yang lebih kecil yaitu : air terjun cikundul dan cidendeng. Disisi sebelah kanan dari air terjun Cibeurem terdapat limut merah (spagnum gedeanum) yang tidak dapat diketemukan di lokasi lain. Air terjun ini merupakan air terjun tertingggi yang dapat di kunjungi oleh wisatawan. Air terjun curug Sawer terletak 2 km dari pintu masuk taman wisata Alam Situ Gunung. Umumnya air terjun ini merupakan tujuan awal dari kunjungan wisatawan, baru kemudian menuju ke telaga untuk bersantai sambil menikmati kesejukan udara dan indahnya panorama yang ada.
  4. Air panas : terletak 5,2 km dari pintu masuk cibodas, diketinggian 2150 m. Dpl. Tidak jauh dari tempat berkemah Kandang Batu. Para pendaki biasanya menyempatkan diri mandi di mata air panas tersebut sambil beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanannya.
  5. Kawah Gunung Gede : Kawah Gunung Gede berjarak 8,9 km dari pintu masuk Cibodas. Sejauh 500 meter mendekati puncak, merupakan daerah yang gersang sebagai akibat letusan gunung yang pernah terjadi. Di daerah ini tidak terdapat pepohonan dan rerumputan hanya tumbuh menyebar di beberapa tempat. Kawah Gunung Gede masih aktif dan secara periodik mengeluarkan gas-gas yang berbau belerang. Terdapat tiga buah kawah dalam satu kompleks yang berdekatan,yaitu : Kawah Ratu yang paling besar,Kawah Lanang dan Kawah Wadon.
  6. Alun-alun suryakencana : Pada ketinggian 2.750 meter,antara Gunung Gede dan Gunung Gemuruh, terdapat daerah datar dengan panjang 1.500 meter dan lebar 250 meter. Lokasi ini berjarak 10,2 km dari pintu masuk Cibodas dan 6,9 km dari pintu masuk gunung putri. Di daerah tersebut banyak ditemukan bunga edelwis yang betebaran memutih memenuhi luasnya alun-alun.Dibeberapa tempat, pohon bunga edelwis dapat mencapai tinggi 4 – 5 meter. Di alun-alun Suryakencana disediakan tempat berkemah untuk kapasitas 40 tenda.
  7. Alun-alun Pangrango : terletak dilereng gunung Pangrango. Seperti alun-alun Suryakencana, lapangan ini banyak ditumbuhi bunga edelwis tetpi luasnya lebih kecil daripada alun-alun Suryakencana.


Sarana dan Prasarana
Fasilitas untuk para wisatawan yang senang melakukan kegiatan wisata alam di kawasan TN Gunung Gede Pangrango cukup tersedia. Di pintu masuk Cibodas terdapat Wisma Cinta Alam dan Pusat Informasi.
Jalan setapak dengan lebar antara 1 – 1,5 meter yang telah diperkeras dengan batu, menghubungkan Cibodas, Gunung Putri, Selabintana dan obyek – obyek lainnya.


AKSESIBILITAS

TN Gunung Gede Pangrango dapat dicapai melalui empat pintu masuk yaitu Cibodas dan Gunung Putri (Kabupaten Cianjur) serta Salabintana dan Situgunung (Kabupaten Sukabumi). Pintu masuk Cibodas merupakan pintu utama dan terletak dekat kantor Taman Naional. Dapat ditempuh dengan mobil; jarak dari Jakarta 100 Km atau dapat ditempuh dengan waktu 2,5 jam dan dari Bandung ditempuh selama 2 jam. Pintu masuk Gunung Putri yang agak berdekatan dengan Cibodas dan Pacet. Pintu masuk Situgunung berjarak 15 Km dari Cisaat, Sukabumi.


Demikianlah informasi yang kami peroleh hasil dari perjalanan kami menuju Lembah Pangrango. Semoga Bermanfaat.

Salam Rimba!

Bonlap to Baduy 2010

3 April 2010

Kali ini, kami akan menceritakan pengetahuan kami tentang Baduy yang kami peroleh setelah camping di daerah Baduy. Bagi teman-teman yang tertarik dengan Baduy, simaklah pengalaman kami ini.

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Asal-usul

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-oraang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan 'wangsit siliwangi' yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin:

"Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung."

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Kelompok-kelompok dalam masyarakat Kanekes

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Baduy Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).


Baduy Luar

Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.

Penyebab

  • Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam.
  • Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam
  • Menikah dengan anggota Baduy Luar

Ciri-ciri masyarakat

  • Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Baduy, termasuk warga Baduy Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Baduy Dalam.
  • Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam.
  • Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
  • Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
  • Mereka tinggal di luar wilayah Baduy Dalam.

Baduy Dalam

Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan Suku Baduy. Tidak seperti Baduy Luar, warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:

  • Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
  • Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
  • Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun)
  • Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
  • Menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "puun".

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "puun" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung (Makmur, 2001).


Mata pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Interaksi dengan masyarakat luar

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Demikianlah informasi yang kami peroleh hasil dari perjalanan kami menuju Baduy. Semoga teman-teman tertarik setelah mengetahui informasi kami dan mau mengunjungi Baduy. Buat informasi tambahan, perjalanan ke Baduy tuh walaupun melelahkan tapi menyenangkan loh karena warga Baduy ternyata baik tidak seperti yang kami bayangkan (tidak ramah). So, buat temen-temen yang tertarik, berliburlah ke Baduy


Salam Rimba!